ISAS Dorong Transformasi Akreditasi Berbasis Dampak dalam Pertemuan Stakeholder LAM Teknik 2026

Jakarta, 6 April 2026 – Indonesian Society of Applied Science (ISAS) berpartisipasi aktif dalam kegiatan Pertemuan Stakeholder LAM Teknik 2026 yang diselenggarakan oleh Lembaga Akreditasi Mandiri Teknik (LAM Teknik) di Mangkuluhur ARTOTEL Suites, Jakarta. Kegiatan ini merupakan forum strategis nasional yang bertujuan untuk menyamakan persepsi serta memperkuat sinergi antar pemangku kepentingan dalam pengembangan instrumen akreditasi pendidikan tinggi keteknikan.

Pertemuan yang berlangsung pada tanggal 6–7 April 2026 ini dihadiri oleh berbagai asosiasi profesi dan program studi, termasuk ISAS, dalam rangka memberikan masukan konstruktif terhadap penguatan aspek kurikulum, capstone design, basic science, serta kesehatan, keselamatan kerja, dan lingkungan (K3L).

Dalam forum tersebut, ISAS menegaskan posisi strategisnya sebagai penghubung antara dunia akademik, vokasi, dan industri, sekaligus sebagai penggerak utama hilirisasi riset dan penguatan applied science. ISAS menekankan pentingnya transformasi instrumen akreditasi yang tidak hanya berfokus pada aspek administratif dan teoritis, tetapi juga pada pencapaian output nyata serta dampak yang terukur bagi industri dan masyarakat.

Sebagai bagian dari kontribusi strategisnya, ISAS menyampaikan sejumlah rekomendasi penting, antara lain pengembangan kurikulum berbasis problem dan dampak (problem & impact-based learning), peningkatan porsi pembelajaran berbasis industri minimal 20–30%, serta integrasi teknologi masa depan seperti artificial intelligence, Internet of Things (IoT), cybersecurity, dan data engineering. Selain itu, ISAS juga mendorong penerapan pendekatan outcome-based yang berlanjut hingga impact-based, sehingga capaian pembelajaran tidak hanya berhenti pada kompetensi, tetapi juga menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Pada aspek capstone design, ISAS mengusulkan transformasi paradigma dari tugas akhir konvensional menjadi proyek “pre-hilirisasi” yang memiliki pengguna nyata, potensi implementasi, serta menghasilkan luaran berupa prototipe, demonstrasi, model bisnis, dan potensi kekayaan intelektual. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan relevansi lulusan terhadap kebutuhan industri sekaligus mempercepat proses hilirisasi inovasi.

Kegiatan ini juga diikuti oleh berbagai asosiasi nasional, seperti FORTEI, BKSTI, PERTETA, serta IEEE Indonesia Section, yang bersama-sama memberikan masukan dalam rangka memperkuat kualitas dan relevansi sistem akreditasi pendidikan teknik di Indonesia.

Melalui partisipasi dalam forum ini, ISAS menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam mendorong transformasi pendidikan tinggi keteknikan yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak nyata. Ke depan, ISAS akan terus memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan guna mewujudkan ekosistem pendidikan teknik yang inovatif, berdaya saing global, dan relevan dengan kebutuhan industri.